Sisi Gelap Narasi Pahlawan: Nyawa yang Terlupakan

No Comments

Sisi Gelap Narasi Pahlawan: Nyawa yang Terlupakan – Hari Pahlawan, yaitu alur dari kisah yang membanggakan dalam jejak sejarah Indonesia. Keberanian para pejuang Surabaya melawan serangan Inggris, yang yaitu negara jawara dari Perang Dunia II. Melainkan, di balik sakral nya kisah kepahlawanan, ternyata menyimpan cerita mengerikan, yaitu jangka waktu Masa Bersiap. RTP Slot Masa Bersiap yaitu masa kacau nya Revolusi Indonesia, yang timbulnya pembunuhan, penjarahan, pemerkosaan, sejak pertengahan Agustus 1945 hingga permulaan 1946. Bukan hanya mengarah pada orang Eropa, Indo, tapi mereka yang dianggap berpihak kepada Belanda.

Terdapat dua monumen bersejarah di Surabaya, yang mengenang jasa para pemuda Indonesia melawan Belanda pada tahun 1945-1949. Pertama yaitu Monumen Bambu runcing, yang pada saat itu para pemuda membawanya untuk di genggam selama era revolusi berlangsung. Kedua yaitu plakat sebagai peringatan yang terletak di wilayah Balai pemuda.


Maaf Pembantaian massal

Historiography Indonesia membuktikan aksi para pemuda, kepada orang – orang Belanda yang bersenjata, sebagai tindakan kejam kepada penindasan kolonial kembali mencegah kolonial berkuasa. Kisah hal yang demikian, menyebut insiden pembunuhan berada di luar jangkauan kontrol kontak senjata, yang sama seperti momen pembunuhan massal 1965.

Melainkan, berbeda halnya dengan arsip Belanda serta Inggris, yang menceritakan bahwa pemuda sengaja membunuh, mengumpulkan pria, wanita, buah hati-buah hati, yang tidak bersenjata. Kebanyakan korban, bukannya berasal dari orang Belanda, Indo. Akan tapi, dari mereka bangsa Indonesia. slot terbaru Melainkan, para pemuda turut menghabisi etnis Tionghoa peranakan, wanita pribumi, yang menikah dengan pria Eropa, buah hati Indonesia yang diangkat keluarga Belanda, orang Indonesia yang bekerja sebagai pegawai kolonial.

Pelaksanaan Pembantaian massal

Masa bersiap, tercipta dari sorakan pemuda saat memasuki desa yang mengatakan “siap – siap” . Mereka mengumumkan propaganda, kemudian mengumpulkan warga setempat, yang dianggap mendorong Belanda berdasar etnis nya. Peristiwa yang paling dikenal, jatuh pada 10 Oktober, saat mobil dengan pengeras suara sedang berjalan pelan di wilayah kota Garut, Jawa Barat. Mengisyaratkan pembunuhan kepada orang Eropa, Manado, Ambon, Jepang. Sesudah pengumuman itu, mereka yang berada di dalam rumah dipaksa keluar, berkerumun ke alun – alun, di mana massa telah berkumpul. Berdasarkan saksi mata, massa mulai membunuh para tahanan tadi. Segera, pimpinan dari pemuda membayar para pembunuh dengan emas, berlian yang didapatkan dari korban.

Sejumlah saksi yang berasal dari momen di Surabaya, Kuningan, mengatakan bahwa, para tahanan pria yang dipaksa untuk berlari, lewat barisan pemuda yang memegang bambu runcing, pisau, menuju penjara. Pada tengah malam, banyak tahanan yang sirna dari sel mereka, dikubur secara terburu-buru di kuburan massal. Terdapat kamp di Jawa Timur, yang dikenal akan kejam nya tempat penyiksaan, pembunuhan, yang berada di pacat, yang terletak antara Surabaya, Malang.

Berbeda halnya di Jawa Barat, para pemuda malah tidak mengumpulkan korbannya secara khusus dahulu, tapi lantas membunuhnya dari dalam rumah mereka masing-masing. Mereka menikam menerapkan bambu runcing, lantas mengubur, membakarnya hidup-hidup. Akan tapi, propaganda para pemuda menyasar juga ke bekas pelayan keluarga Belanda, mengancam mereka kalau berani membantu keluarga Belanda.

Simpang klub

Peristiwa pembunuhan yang paling familiar di Surabaya, di antara September, November 1945. Kalau Eropa, Ambon, Manado, Indo, bagus pria, maupun wanita. Dikumpulkan dengan berkedok, melindungi mereka dari wujud tindakan kekerasan, indah mereka di simpang klub, atau sekarang wilayah balai pemuda. Barang turunan mereka segala diperiksa, Slot88 kalau ditemukannya barang Belanda seperti bendera, pin, lainnya, mereka lantas dihabisi di tempat mereka berdiri. Kabarnya tidak, mereka dibawa untuk diinterogasi lebih terperinci, dibawa ke Penjara Kali sosok, Bubutan. Berdasarkan, mereka yang dikirim ke Bubutan tidak kunjung ditemukan lagi. Berdasarkan saksi mata, sisa dari tahanan hanya ditemukan sepotong kaki, sepatu yang masih terpasang. Bagi korban yang masih hidup, mereka dipaksa untuk membersihkan bekas darah dari korban yang tergenang di lantai eksekusi.

Melupakan pembunuhan massal

Fakta nya, susah untuk menemukan adanya bukti kekerasan, dari para pemuda selama masa bersiap di Indonesia. Lantaran momen ini, nyaris tidak tersorot di dalam cerita sah populer. Justru Buku Sejarah, Film, malah komik, membuktikan sebaliknya. Di mana, aksi para pemuda heroik, sebagai Pahlawan Revolusi Indonesia, yang memaksa para Pimpinan Republik, supaya lebih berhati-hati bagi Soekarno, Hatta dalam mengambil keputusan. Cerita perihal pembantaian etnis – etnis, dianggap menghambat jalannya narasi persatuan nasional, yang diramaikan di dalam pemerintahan Indonesia. Akhir dari revolusi, nyaris tidak ada inisiatif di Indonesia guna menyelidiki kasus pembunuhan massal.

Categories: Uncategorized Tags: Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.