3 Kejahatan Genosida

No Comments
3 Kejahatan Genosida

Genosida adalah kejahatan yang melanggar https://www.experiencereign.com/ Hak asasi manusia ini terjadi lamannya jaman penjajahan jepang dan inggris yang berada di indonesia. Kata “Genosida” berasal dari campuran bahasa Yunani dan bahasa Latin. Kata “Geni” berasal dari bahasa Yunani yang berarti ras, sedangkan kata “Cidium” berasal dari bahasa Latin yang berarti membunuh.

3 Kejahatan Genosida

Geger Pecinan 1740

Persiwa ini di sebut sebagai geger pecinan karena pada jaman dahulu banyak dari etnis tionghoa yang di bunuh karena melawan penjajahan belanda. Selain itu, persaingan dagang antara Inggris dan Belanda juga game slot online menjadi penyebab para imigran Tionghoa di Batavia diperas dan diperlakukan tidak adil.

Hal tersebut membuat etnis tionghoa berani atau mempersiapkan pemberontakan secara besar besaran oleh belanda. Konflik semakin membesar ketika muncul isu bahwa masyarakat Tionghoa berkumpul bermain di situs judi berencana melakukan kebrutalan kepada penduduk pribumi. Isu tersebut dimanfaatkan oleh Valckenier untuk mengadakan sayembara, di mana orang yang berhasil memenggal kepala orang Tionghoa akan diberi hadiah yang besar.

Genosida pembangunan Jalan Raya Pos (1808-1811)

Pembangunan jalan raya pantura ini memakan banyak sekali korban dengan alih alih untuk kemajuan bersama, pembangunan ini perbuatan dari gubernur belanda yang membuat rakyat indonesia merasa tersiksa olehnya. Jumlah korban meninggal pada saat pembangunan jalan Anyer-Panarukan sepanjang 1.000 kilometer lebih itu diperkirakan mencapai 12.000 jiwa.

Peristiwa Mandor (1943-1945)

peristawa mandor atau kejadian di pontianak adalah kejadian yang paling sadis dan paling parah selan pembuatan jalan raya pantura. Penyebabnya adalah Tokkeitai atau polisi rahasia Jepang yang mendengar kabar bahwa akan adanya rencana pemberontakan terhadap Jepang. Rencana pemberontakan lahir dari kebencian rakyat terhadap pendudukan Jepang yang memaksa mereka bekerja tanpa henti dan menghadapi siksaan. Kabar tersebut langsung direspons oleh pemerintah militer Jepang di Pontianak dengan melakukan penangkapan terhadap penguasa lokal, tokoh masyarakat, kaum terdidik, serta pelajar dan rakyat dari berbagai kelompok. Penangkapan itu dimulai dari September 1943 hingga awal tahun 1944. Akibatnya, diperkirakan 21.000 orang tewas dalam peristiwa tersebut. Mayat-mayat mereka kemudian dimakamkan dalam satu kuburan masal.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.